Studi tentang filsafat, haramkah dalam islam?

January 7, 2008 at 6:30 pm (Uncategorized)

Filsafat adalah kata majemuk yang berasal dari bahasa yunani, yaitu philosophos. Philo berarti cinta, sedangkan sophia / sophos yang berarti kebijaksanaan. Filsafat secara sederhana berarti cinta terhadap pengetahuan.
Sudah sifat bagi akal manusia untuk selalu ingin tahu terhadap segala sesuatu termasuk dirinya sendiri, karena pengetahuan bukanlah sesuatu yang telah dimiliki manusia sejak lahir (An-nahl 16:78).

Ada dua bentuk pengetahuan, yaitu pengetahuan yang bukan hasil dari usaha aktif manusia dan pengetahuan hasil dari usaha aktif manusia. Hal pertama biasa disebut wahyu, hal ini merupakan keistimewaan dari para nabi. Untuk hal kedua diperoleh melalui indra dan akal, saya akan menggunakan pendapat immanuel kant dalam menjelaskan bagaimana proses pengetahuan dapat diperoleh melalui indra dan akal tersebut. Kant membuat hierarki dalam peraihan pengetahuan manusia,

-Tingkat pertama adalah tingkat pencerapan indrawi
Kant berpendapat bahwa pengetahuan kita merupakan sintesis dari unsur2 apriori (unsur2 yang ada sebelum pengalaman) dengan unsur aposteriori.
unsur apriori adalah ruang dan waktu. Ruang dan waktu sini berbeda dengan pandangan ruang dan waktu ala newton.
Untuk mempermudah maksud kalimat diatas, coba bayangkan sebuah kapur barus, kapur barus tersebut hilang dalam waktu 30 menit. 30 menit disini sebenarnya adalah ukuran pebandingan umur kapur barus tersebut dari sistim waktu yang kita kenal, yang berdasarkan sistem tata surya kita. Pada kenyataannya  kapur barus tersebut memiliki “ruang” dan “waktu”nya sendiri, ada “benda pada dirinya sendiri.
Sama halnya seperti manusia, ruang waktu disini merupakan instrumen rohaniah yang menggarap data-data indrawi
Unsur2 aposteriori adalah data-data indrawi. Pada tingkat ini belum didapat pengetahuan, tetapi baru pengalaman.
Pengalaman : ruang dan waktu + data-data indrawi

-Tingkat kedua adalah tingkat akal budi (verstandt)
Bersamaan dengan pencerapan indrawi, akal budi mulai bekerja secara spontan menggarap input yang diberikan pengalaman pada tingkat sebelumnya, bagaimana?dengan menerapkan dengan apa yang disebut kant sebagai kategori-kategori. Ada 12 kategori yang termuat dalam akal budi, salah satunya adalah kategori kausalitas. Fungsi kategori adalah untuk mengolah pengalaman menjadi pengetahuan.

-Tingkat ketiga adalah tingkat budi atau intelek (vernunft)
Bagi kant, budi atau intelek adalah kemampuan pengetahuan manusia yang tertinggi, berbeda dengan akal budi, intelek tidak menyusun pengetahuan manusia, tetapi bertugas untuk merangkum pengetahuan manusia pada tingkat sebelumnya. Intelek dipimpin oleh ide jiwa, ide dunia, dan ide Allah.
Ide-ide ini sama sekali tidak berfungsi sebagai objek pengetahuan , melainkan memberikan orientasi atau petunjuk yang memampukan intelek untuk menata, menyistematisasi, dan mengarahkan pengalaman. Meskipun begitu, ide-ide ini tidak termasuk pengalaman. Maka tidak mungkin terdapat pengetahuan rasional, entah filsafat , entah metafisik atau ilmu pengetahuan, yang dapat menjangkau ide-ide tersebut.
Terdapat benang merah dari pendapat kant ini dengan tokoh islam Al ghazali seperti yang akan dijelaskan nanti.

Kembali lagi kepada wacana utama, apakah filsafat dilarang dalam islam,
Al quran pada dasarnya merupakan buku petunjuk dan pegangan keagamaan, namun banyak diantara isinya mendorong umat islam untuk berpikir. Kata-kata yang dipakai Al quran dalam menggambarkan kegiatan berpikir adalah :
1. Kata-kata berasal dari ‘aqala, mengandung arti mengerti, memahami dan berpikir, terdapat dalam lebih dari 45 ayat, antara lain dalam surat 2:24, 8:22, dan 16:11-12.
2.Kata-kata yang berasal dari nazhara, melihat secara abstrak dalam ari berpikir dan merenungkan atau menalar, terdapat dalam alquran lebih dari 30 ayat, antara lain surat 50:6-7, 86:5-7, 88:17-20.
3.Kata yang berasal dari tadabbara, mengandung arti merenungkan, dan masih banyak lagi.

Dalam salah satu hadis Qudsi yang menggambarkan betapa tingginya kedudukan akal dalam islam :
” Demi kekuasaan dan keagungan-Ku tidaklah kuciptakan makhluk lebih mulia dari engkau (akal). Karena engkaulah Aku mengambil dan memberi dan karena engkaulah Aku menurunkan pahala dan siksa.”
Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa intisari filsafat terdapat dalam alquran tetapi alquran bukanlah buku filsafat. Agaknya itulah yang menyebabkan Ibnu rusd mengatakan bahwa filsafat bukanlah haram dalam islam, malah menurutnya hukum berfilsafat adalah wajib dan sekurang-kurangnya dianjurkan oleh agama (sunah).

Selanjutnya, saya akan mengambil sudut pandang salah satu tokoh islam yang memberi sanggahan keras terhadap filsafat, yaitu Al ghazali. Banyak sanggahan-sanggahan keras yang diberikan Al Ghazali terhadap pemikiran-pemikiran filsafat yang telah ada sebelumnya, salah satunya adalah kritiknya mengenai hukum sebab akibat. Sebenarnya Al Ghazali tidak mengingkari hukum kausalitas, tetapi yang di ingkari adalah sifat dari hubungan tersebut yang dianggap oleh para filosof sebelumnya adalah suatu keniscayaan atau kepastian. Untuk mempermudah pengertian dari maksud kalimat diatas, saya contohkan sebuah kertas yang terbakar. Hubungan sebab akibat dari kejadian tersebut adalah karena api, maka kertas terbakar. Menurut Al ghazali tidak seperti itu. Yang membakar kertas bukanlah api, ada sebab lain dibalik api tersebut yang merupakan rahasia tersembunyi, yang merupakan sebab hakiki yaitu Allah. Jadi fenomena kertas terbakar oleh api hanyalah merupakan kesimpulan kita, karena pada umumnya kejadian yang dijumpai memang seperti itu. Tapi itu tidak bisa menjelaskan bagaimana nabi ibrahim tidak mempan dibakar api (mukjizat). Dari pendapat diatas Al ghazali mampu menerangkan definisi mukjizat sehingga dapat diterima oleh logika.

Contoh lainnya mengenai penciptaan dunia. Alam diciptakan oleh Allah. Hubungan kausalitas disini menurut Al Ghazali tidak bersifat langsung. Karena kita tidak mengetahui apakah alam berawal dari sebuah materi atau sebuah ketiadaan. Tetapi pada akhirnya akan berujung pada sebab yang hakiki yaitu Allah. Analoginya mirip dengan anak, seorang anak ada karena Allah, tetapi sifatnya tidak langsung melainkan ada bapak yang membuat si anak.

Menurut saya bila dilihat dari sikap Al ghazali ini, sebenarnya dia juga seorang filosof tetapi dia menyangkal klaim akal untuk mengetahui seluruh kebenaran, terutama kebenaran metafisika. Hal ini sejalan dengan pendapat kant, mengenai ide tentang Tuhan diatas, Kant juga menyangkal klaim akal untuk mengetahui kebenaran Metafisika (Tuhan), karena kita tidak mempunyai pengalaman empiris apapun tentang hal tersebut.

Pada akhirnya, saya mengambil kesimpulan bahwa filsafat tidak dilarang dalam islam. Selama studi yang kita lakukan tidak mengklaim sebuah kebenaran mutlak dalam area metafisika.—-> padahal bila dilihat lebih seksama, filsafat dalam islam juga hanya membicarakan masalah-masalah yang tidak ditemukan penegasannya dalam Alquran dan Hadis. Dengan kata lain, filsafat hasil pemikiran filosof muslim dapat disebut juga sebagai ijtihad.

Adhiet🙂

1 Comment

  1. tantan said,

    Sepakat mas!🙂
    cuman terkadang (atau seringnya kali yee) orang2 yg belajar filsafat menembus batas metafisik (aqidah dan ketauhidan), kalo udah begini mau tak mau akan memberikan efek pada teologi dan ideologi seseorang, so kemudian pada amalan2 sehari2… Nah ini yang bahaya, dan kalau dalam pandangan para ulama dakwah hal tersebut disebut “sia-sia”…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: